
Dalam uprak umum kelas XII A4 yang menceritakan kisah Pater Beek, saya mendapatkan tanggung jawab sebagai sie dekor, sekaligus berperan sebagai aktor(penari) dan MUA (makeup artist). Sejak awal persiapan, kami menyadari bahwa waktu yang ada sangat terbatas, sementara konsep panggung harus bisa menggambarkan suasana dan latar cerita dengan baik. Hampir setiap minggu, ketika ada waktu luang, saya bersama tim dekor bekerja menyiapkan properti, mengecat properti, memikirkan penataan panggung, dan memastikan setiap detail mendukung alur kisah Pater Beek.
Proses sebagai sie dekor benar-benar menguras tenaga karena banyak hal yang harus diselesaikan dalam waktu yang cukup singkat. Beberapa dekor sempat kami perbaiki ulang agar lebih kokoh dan sesuai dengan gambaran awal. Kami sering merasa dikejar waktu, terutama ketika hari pementasan semakin dekat. Namun, dari proses tersebut saya belajar tentang kerja sama tim, komunikasi yang efektif, serta tanggung jawab dalam menyelesaikan tugas bersama dengan maksimal.
Selain bertugas di bidang dekor, saya juga berperan sebagai MUA. Tanggung jawab ini berbeda karena saya harus memastikan setiap pemeran memiliki riasan yang sesuai dengan karakter dan suasana cerita. Saya memperhatikan detail wajah, kesan usia, dan ekspresi yang ingin ditonjolkan agar karakter terlihat lebih kuat di atas panggung. Peran sebagai MUA menuntut ketelitian, kreativitas, serta kemampuan bekerja cepat, terutama ketika waktu persiapan semakin mepet sebelum tampil.
Di sisi lain, sebagai aktor dan penari saya tidak hanya dituntut untuk dapat menghidupi karakter, tetapi juga menjalankan bagian tari yang menjadi salah satu tugas dalam peran saya. Saya harus berlatih gerakan agar selaras dengan alur cerita serta tetap menjaga ekspresi sesuai karakter yang saya bawakan. Selain itu saya juga harus bisa mendalami lagu supaya bisa menyampaikan kesan yang dapat dalam tarian kontemporer. Setelah menyelesaikan tugas dekor dan membantu merias, saya sering langsung melanjutkan latihan menari, sehingga saya harus pandai membagi waktu dan menjaga stamina.
Bagian yang paling mengesankan adalah ketika hari pementasan tiba dan semua usaha kami terwujud di atas panggung. Melihat dekorasi yang terpasang dengan baik, riasan para pemeran terlihat maksimal, dan saya sendiri dapat tampil dengan penuh penghayatan memberikan rasa bangga yang luar biasa. Tepuk tangan penonton menjadi bukti bahwa kerja keras dalam menjalankan berbagai peran tersebut tidak sia-sia. Dari yang awalnya saya berharap bahwa uprak ini dapat cepat selesai, kini saya tidak rela untuk melupakannya. Pengalaman dalam uprak Pater Beek ini menjadi kenangan berharga yang mengajarkan saya arti tanggung jawab, kebersamaan, dan totalitas dalam setiap tugas yang dipercayakan kepada saya.

















No responses yet