Pagelaran Karya “Pater Beek: A Sheperd in the Shadows” mengangkat kisah Pater Beek sebagai sosok yang berperan dalam pembentukan karakter pemimpin muda Indonesia, dikemas melalui perpaduan unsur drama, musikal, dan koreografi

Pagelaran karya berjudul “Pater Beek: A Sheperd in the Shadows” yang berlangsung pada 12 Februari 2026 merupakan salah satu pengalaman paling berkesan dalam hidup saya. Di balik penampilan yang dipersembahkan oleh kelas XII-A4, terdapat proses panjang yang saya jalani bersama teman-teman sejak tahun lalu hingga pementasan akhir. Selama beberapa bulan tersebut, kami melakukan latihan rutin, gladi kotor, hingga gladi bersih yang semakin mendekati hari pertunjukan.

Latihan berlangsung di beberapa lokasi seperti Lazaris Hall, Vinsensius Hall, Francis Room, serta tempat lain sesuai kebutuhan masing-masing kelompok. Pada awalnya, latihan hanya terbatas pada pembacaan naskah dan pendalaman karakter. Seiring berjalannya waktu dan semakin seringnya latihan, saya mulai merasa lebih nyaman dan memahami alur cerita serta pesan yang ingin disampaikan.
Di dalam drama ini, saya memainkan peran sebagai warga lokal, pendemo, penari kontemporer, dan penari Payung Fantasi. Setiap karakter yang saya perankan memiliki tantangannya masing-masing. Saat menjadi warga lokal, saya harus menggambarkan sosok yang sederhana dan realistis. Sebagai pendemo, saya dituntut untuk menunjukkan keberanian dan semangat dalam menyuarakan aspirasi. Peran ini cukup menantang karena memerlukan ekspresi yang kuat dan energi yang besar agar emosi dalam adegan dapat terasa nyata. Sementara itu, sebagai penari kontemporer, saya harus mengekspresikan emosi melalui gerakan tubuh yang lebih mendalam. Pada bagian penari Payung Fantasi, saya harus memastikan kerjasama tim agar setiap gerakan tampak harmonis dan indah di atas panggung. Walaupun melelahkan, tetapi dari sini saya belajar untuk lebih disiplin dan bertanggung jawab.
Selain berperan sebagai aktor, saya juga ikut terlibat sebagai anggota sie kostum dan sie MUA (Make Up Artist). Dalam sie kostum, saya membantu menyiapkan dan memastikan pakaian pemain sesuai dengan tokoh atau karakter masing-masing. Elemen yang penting, yaitu kostum yang tepat sangat membantu dalam menciptakan suasana cerita. Dalam sie MUA, saya bertugas merias pemain sebelum mereka tampil. Saat hari pementasan, kami harus bergerak cepat karena waktu antara adegan sangat terbatas. Saya juga beberapa kali membantu tim dekorasi dalam membuat properti drama di rumah salah satu anggota. Kami bersama-sama menyiapkan dan merakit perlengkapan yang diperlukan untuk mendukung latar atau background cerita. Proses tersebut cukup melelahkan, namun juga menyenangkan karena dikerjakan secara bersama-sama.
Melalui rangkaian kegiatan ini, saya menyadari bahwa sebuah pagelaran karya tidak hanya berkaitan dengan penampilan di hadapan penonton, melainkan juga melibatkan kolaborasi, dedikasi, dan rasa tanggung jawab. Peran saya sebagai pemain sekaligus bagian dari beberapa sie memberikan saya pengalaman yang berharga dan tidak terlupakan. Secara keseluruhan, kegiatan ini merupakan pembelajaran yang mengajarkan saya untuk lebih disiplin, memiliki kepercayaan diri, dan bertanggung jawab, serta bekerja sama dalam tim.

















No responses yet