Relevansi Nilai-Nilai
Agustinus Adisoetjipto Pada Zaman Sekarang

Pada zaman modern ini ada berbagai tantangan yang harus kita hadapi seperti globalisasi, perkembangan teknologi serta perubahan sosial yang terus terjadi. Meskipun terjadi perubahan, kita tidak boleh melupakan sejarah seperti apa yang diungkapkan oleh bapak proklamator yaitu “Jas Merah.” Agustinus Adisoetjipto adalah salah satu pahlawan revolusi nasional Indonesia yang dapat diteladani oleh kita sebagai umat katolik maupun warga negara. Adisoetjipto atau yang memiliki panggilan kecil Tjip adalah penerbang pertama TNI-AU yang gugur dalam tugas. Tjip memiliki kepribadian yang kokoh, tabah, ulet, rela berkorban dan jiwa kepemimpinan untuk melawan penjajah.
Sejak menempuh pendidikan penerbangan, ia dikenal berdisiplin tinggi dan pantang menyerah. Seperti dikatakan dalam riwayat hidupnya, “Tjip dipuji karena budi pekertinya yang halus, tidak banyak bicara, cermat, penuh disiplin dan pemberani. Lagi pula ia pandai.” Bahkan, “Masa pendidikan yang seharusnya ditempuh dalam waktu 3 (tiga) tahun, dapat diselesaikannya dalam waktu 2 (dua) tahun.” Hal ini menunjukan keteguhannya yang dapat kita aplikasikan untuk kehidupan baik dalam lingkungan sekolah, bekerja, maupun kehidupan berkeluarga kita. Contohnya yaitu disiplin dan teguh dalam belajar untuk persiapan ulangan. Namun jangan lupa akan firman Tuhan dalam melakukannya, seperti yang ada pada Kitab Suci Kolose 3:23, “Segala sesuatu yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Apa yang kita perbuat harus dilakukan dengan sepenuh hati seperti kita melayani Tuhan.
Meskipun memiliki kemampuan dan pendidikan yang lebih dari cukup, Tjip menunjukkan bahwa ia tidak memiliki ambisi pribadi dan penonjolan diri saat pemerintah mengangkat R. Soerjadi Soerjadarma sebagai Kepala Staf TKR-Jawatan Penerbangan. Adisoetjipto tidak merasa iri, melainkan mendukung keputusan itu. “Walaupun demikian ia mendukung pengangkatan itu. Baginya yang penting adalah pengabdian terhadap negara.” Sikap ini mencerminkan nilai vinsensian kerendahan hati yang bisa kita ambil untuk kegiatan sehari-hari seperti tidak memamerkan nilai ulangan apabila mendapatkan 100, atau menghibur teman yang mendapat nilai yang kurang memuaskan. Hal ini sesuai yang dikatakan oleh Paus Fransiskus, “Kerendahan hati adalah kunci yang membuka hati Allah dan hati sesama.”

Dalam perjalanan hidupnya, ia juga tercatat sebagai pelopor, menjadi satu-satunya penerbang Indonesia yang memiliki Groot Militaire Brevet, sehingga ia dikenal sebagai “perintis utama dalam sejarah pendidikan penerbangan di Indonesia.” Tjip memiliki jiwa nasionalis yang tinggi, bahkan ketika dia dipanggil oleh Komodor Udara Soerjadi Soerjadarma untuk membantu kekuatan udara, dia langsung menerimanya tanpa berpikir dua kali. Kita bisa mengimplementasikan nilai yang diperlukan hingga masa sekarang dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Bukan berarti kita mempertahankan kemerdekaan Indonesia melalui serangan langsung, tetapi dalam segi teknologi internet dan globalisasi dengan melestarikan budaya Indonesia seperti menyaring budaya asing yang masuk agar budaya kita tidak luntur.
Ia menunjukkan sifat kepemimpinan yang dapat diteladani oleh penerus bangsa. Semasa hidupnya, Tjip merupakan seorang Komodor Udara dalam Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara. Ia memperoleh pangkat tersebut setelah menunjukan kemampuan dalam menerbangkan pesawat selama masa perang dunia kedua dan masa perjuangan kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Belanda. Bahkan setelah kematiannya, sikap kepemimpinannya masih dihormati oleh militer Indonesia hingga ia diberikan kenaikan pangkat anumerta Komodor Udara Muda. Sifat kepemimpinannya dapat diteladani oleh masyarakat zaman sekarang karena sebagai warga Indonesia, kita harus berani memimpin negara untuk mewujudkan masa depan yang lebih baik. Dimulai dari hal kecil seperti berani untuk menjadi ketua kelompok maupun mengakomodir teman sekolah untuk mengerjakan tugas kelas.
Ia juga menunjukan sikap tanggung jawab yang luar biasa dan selalu mementingkan tugas di atas segalanya. Pada saat Agresi Militer Belanda I, Adisoetjipto dan beberapa tokoh pahlawan Indonesia diperintahkan terbang ke India menggunakan pesawat Dakota VT-CLA. Tjip menyadari bahwa tugas ini berbahaya dan memiliki resiko tinggi, tetapi ia tetap melakukan tugas itu dengan berani dan sukarela. Ia berhasil menerobos pertahanan melalui blokade udara Belanda dan terbang menuju Kawasan India dan Pakistan. Sikap tanggung jawab yang ia lakukan sangat diperlukan untuk menjadi seorang pemimpin. Hal tersebut dikemukakan oleh Paus Benediktus XVI, “Kepemimpinan berarti mengambil tanggung jawab, bukan mencari keuntungan pribadi.”

Sebelum pulang ke Indonesia, ia singgah di Singapura untuk mengangkut bantuan obat-obatan Palang Merah Malaya yang dibutuhkan Indonesia. Sesaat mendekati Lanud Maguwo, tiba-tiba dari arah utara, muncul dua pesawat milik angkatan udara Belanda yang menembaki pesawat yang ditumpangi. Akibatnya pesawat tersebut hilang kendali dan jatuh dan langsung terbakar di perbatasan Desa Ngoto dan Wojo. Walaupun misinya gagal, Tjip tetap menunjukan sikap keberanian yang luar biasa karena hingga akhir hayatnya ia tetap menjalankan tanggung jawabnya sebagai warga Indonesia melalui kontribusinya dalam upaya mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Ia tetap mementingkan tugasnya di atas keamanannya sendiri selayaknya bagaimana kita sebagai warga Indonesia harus berani untuk berjuang demi negara kita. Hal ini dapat dilihat dalam dunia sekarang, bila kita sebagai pemilik bisnis memilih untuk melakukan produksi di Indonesia agar membuka lapangan pekerjaan untuk rakyatnya dibandingkan membukanya di luar negeri meskipun lebih murah, kita perlu memilih bangsa dibandingkan hal kecil. Seperti yang dikatakan oleh Ki Hajar Dewantara, “Setiap warga negara harus mengutamakan kepentingan tanah air di atas kepentingan golongan atau diri sendiri.”
Nilai perjuangan Agustinus Adisoetjipto tidak tertinggal oleh waktu. Pribadinya yang teguh, rendah hati, semangat nasionalisme, kepemimpinan, dan tanggung jawabnya dapat menjadi teladan bagi generasi sekarang. Dengan meneladani nilai dari sejarah hidup Agustinus Adisoetjipto, kita diharapkan mampu menghadapi tantangan modern, menjaga persatuan, serta berkontribusi nyata bagi kemajuan bangsa dan tanah air Indonesia. Seperti ujar Bung Tomo, “Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah yang dapat membuat secarik kain putih menjadi merah dan putih, maka selama itu kita tidak akan menyerah kepada siapapun juga.” Kita sebagai rakyat indonesia memiliki kewajiban untuk melindunginya, salah satunya dengan mengamalkan nilai-nilai perjuangan Agustinus Adisoetjipto.
Identitas Kelompok:
Jazmine Victoria Lesmana/14
Jeremy Bradley Yuki/15
Joel Jeremiah Christiansen/16
Kharisma Putra Gunawan/19
Steven Darren Purnomo/30


















No responses yet