Dalam proyek kolaborasi uprak yang mengangkat kisah Pater Beek, saya dipercaya untuk berperan sebagai wakil sutradara. Peran ini bukan hanya sebuah jabatan, tetapi sebuah tanggung jawab besar yang menuntut keterlibatan penuh, baik dalam proses latihan maupun saat hari pementasan. Sejak awal, saya aktif mendampingi para pemain dalam memahami alur cerita serta mendalami karakter masing-masing. Saya membantu mereka mengolah emosi di setiap adegan, melatih ekspresi wajah, gestur tubuh, hingga intonasi suara agar pesan yang ingin disampaikan benar-benar terasa hidup dan menyentuh hati penonton.
Dalam proses latihan, saya menyadari bahwa pementasan bukan sekadar menghafal dialog atau mengatur blocking. Lebih dari itu, setiap pemain perlu memahami makna di balik setiap kata yang diucapkan. Ketika mereka mampu merasakan emosi tokoh yang diperankan, baik itu ketakutan, keberanian, pengorbanan, maupun keteguhan iman, barulah pesan kisah Pater Beek dapat tersampaikan secara utuh. Di sinilah saya belajar tentang pentingnya kejujuran emosi. Saya juga belajar untuk bersabar, karena tidak semua pemain langsung mampu mengekspresikan emosi dengan tepat. Dibutuhkan pendekatan yang lembut, komunikasi yang jelas, serta empati agar mereka merasa didukung, bukan ditekan.
Selain melatih emosi dan pendalaman karakter, saya juga belajar tentang arti kerja sama tim. Sebagai wakil sutradara, saya harus mampu menjadi jembatan antara sutradara dan para pemain. Saya belajar mendengarkan, menerima masukan, dan mencari solusi ketika terjadi perbedaan pendapat. Dari proses ini, saya semakin memahami bahwa keberhasilan sebuah pertunjukan adalah hasil dari kolaborasi, bukan kerja individu.
Pada hari-H pementasan, peran saya tidak berhenti di atas panggung. Saya justru semakin aktif di bagian backstage, khususnya dalam mengatur properti dan membantu make up para pemain. Saya memastikan setiap properti tersedia dan siap digunakan sesuai urutan adegan agar tidak terjadi kesalahan saat pertunjukan berlangsung. Saya juga membantu merapikan kostum dan make up supaya setiap pemain benar-benar tampil sesuai karakter yang diperankan. Di balik layar, suasana sering kali menegangkan, tetapi saya belajar untuk tetap tenang dan fokus agar semua berjalan lancar.
Pengalaman berada di balik panggung membuka mata saya bahwa kesuksesan sebuah pementasan tidak hanya terlihat dari tepuk tangan penonton, tetapi juga dari kerja keras yang sering kali tidak terlihat. Dari keseluruhan proses ini, saya semakin menyadari pentingnya tanggung jawab, ketelitian, dan komitmen dalam sebuah proyek kolaboratif. Saya belajar bahwa menjadi pemimpin bukan berarti menjadi yang paling menonjol, melainkan menjadi orang yang siap melayani, mendukung, dan memastikan semua anggota tim dapat berkembang dan memberikan yang terbaik. Pengalaman ini menjadi pelajaran berharga bagi saya, tidak hanya dalam dunia pementasan, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

















No responses yet