
“Pater Beek: A Shepherd in the Shadows” merupakan judul Pagelaran Karya SMA Katolik St. Louis 1 Surabaya kelas XII-A4. Pagelaran ini bertujuan untuk mementaskan sekaligus memperkenalkan tokoh inspiratif Katolik yang memiliki peran besar dalam sejarah Indonesia. Josephus Gerardus Beek, atau yang kerap disapa Pater Beek, menjadi tokoh yang kami angkat karena kisah hidupnya yang menyentuh serta penuh makna perjuangan dan pengabdian. Dalam pagelaran ini, saya dipercaya untuk mengemban dua peran sekaligus: sebagai koordinator kelas dan koordinator operator serta multimedia. Dua jabatan yang terdengar berbeda, namun sama-sama menuntut tanggung jawab besar.
Dari namanya saja sudah terlihat bahwa jabatan koordinator kelas membawa banyak tanggung jawab. Tugasnya bukan sekadar mengoordinasikan teman-teman, tetapi juga menghadiri rapat PIC (Person in Charge), mengurus peminjaman ruangan, memastikan seluruh rencana tidak melanggar peraturan sekolah, melakukan konfirmasi kepada guru terkait, serta mengawasi berbagai detail kecil yang sering kali luput dari perhatian.

Tidak jarang muncul perbedaan pendapat yang berkembang menjadi perdebatan. Suasana sempat terasa ribut dan cukup chaos. Namun justru di situlah esensinya. Dalam dinamika itulah peran koordinator benar-benar diuji untuk bersikap tetap tenang, menjadi penengah, dan memastikan tujuan bersama tidak terpecah oleh ego masing-masing. Kepemimpinan bukan soal memberi perintah, melainkan menjaga arah dan kestabilan tim di tengah perbedaan.
Sekilas, tugas koordinator operator tampak lebih ringan karena tidak terlihat langsung di atas panggung. Namun kenyataannya, peran ini sangat krusial. Pengaturan audio, background, videotron, lighting, hingga efek transisi harus berjalan presisi sesuai dengan alur cerita. Koordinasi jarak jauh antara aktor di tengah panggung dan operator di belakang benar-benar membutuhkan konsentrasi tinggi. Timing tidak boleh terlambat satu milidetik pun. Posisi operator OBS, spotlight, dan lighting yang berjauhan membuat saya harus menggunakan HT (Handy Talky) hampir tanpa henti demi memastikan komunikasi tetap terjaga.

Tantangan terbesar terasa ketika panitia meminta penambahan gambar pitch black untuk mengatasi kebocoran cahaya pada layar videotron saat lampu dimatikan. Keputusan harus diambil dengan cepat, file harus segera disiapkan, dan semuanya harus tetap sinkron dengan jalannya pertunjukan. Saat gladi bersih pun tekanan terasa nyata. Suara napas yang terlalu keras, bisik-bisik yang masih terdengar, hingga dialog yang kurang tepat menjadi evaluasi besar yang terus terbayang bahkan sampai sulit tidur. Jabatan ini mungkin terdengar sepele, tetapi perannya sama pentingnya dengan aktor di atas panggung maupun tim perlengkapan di belakang layar. Tanpa koordinasi teknis yang matang, suasana yang ingin dibangun tidak akan pernah sampai kepada penonton.
Meski diwarnai chaos, perdebatan, dan kelelahan, semua itu justru tidak memecah kelas kami. Sebaliknya, kami belajar berkomunikasi, berkoordinasi, saling mengerti, dan saling memahami. Dari proses itulah kelas XII-A4 menjadi lebih solid dan bersatu.

Dari dua peran ini, saya belajar bahwa menjadi pemimpin berarti harus sabar, tidak emosional, dan tangguh. Tidak semua orang menangkap maksud yang sama persis dengan apa yang kita pikirkan, dan setiap orang memiliki sudut pandang yang menurutnya paling baik. Di situlah komunikasi menjadi kunci utama. Setiap percakapan, diskusi, dan bahkan perdebatan memiliki peran penting dalam menopang keberhasilan pagelaran ini. Pagelaran ini bukan sekadar memenuhi syarat penilaian kelas XII, apalagi hanya untuk bersenang-senang. Di panggung inilah kami tertawa, marah, lelah, dan menangis bersama. Tidak masalah jika hasilnya tidak sesempurna kelas lain. Bagi kami, panggung “Pater Beek: A Shepherd in the Shadows” adalah yang terbaik di hati kami, karena di sanalah kami bertumbuh, belajar, dan benar-benar menjadi satu sebagai kelas XII-A4.

















No responses yet