𝖠𝗋𝗍𝗂𝗄𝖾𝗅 𝖬𝗀𝗋. π–Άπ—‚π—…π—π–Ύπ—…π—†π—Žπ—Œ 𝗏𝖺𝗇 π–‘π–Ύπ—„π—„π—Žπ—†, 𝖲.𝖡.𝖣. – π–ͺπ–Ύπ—…π—ˆπ—†π—‰π—ˆπ—„ 1

Latest Comments

No comments to show.

Nilai yang Tidak Lekang oleh Waktu, dari Van Bekkum untuk Indonesia

 

Dalam sejarah perjuangan Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaannya, kita sering mengenang pahlawan yang mengangkat senjata melawan para penjajah. Namun, perjuangan bangsa ini tidak hanya lahir dari medan perang. Ada tokoh yang berjuang dengan jalan berbeda baik dari pelayanan, pendidikan, diplomasi,Β  maupun pengabdian penuh kepada masyarakat. Kita harus berani mengakui dan terbuka terhadap fakta bahwa tidak semua pahlawan kemerdekaan adalah orang Indonesia asli. Salah satu tokoh non-Indonesia yang memiliki kisah yang akan menyentuh hati kita semua adalah Mgr. Wilhelmus van Bekkum, S,V.D., seorang uskup Katolik asal Belanda. Meski berasal dari bangsa penjajah, setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945 beliau justru dengan berani membela Indonesia. Beliau melakukan banyak karya pelayanan seperti membangun institusi pendidikan, rumah sakit, serta menjadi penghubung antara Gereja Katolik Internasional dan Republik Indonesia.

 

Teori perubahan sosial dari Talcott Parsons (1951) menegaskan bahwa lembaga baru muncul untuk menjawab kebutuhan baru. Teori ini seolah dibuktikan secara nyata oleh Van Bekkum yang mendirikan sekolah dan rumah sakit yang menopang kehidupan masyarakat zaman dahulu. Di tengah suasana mencekam, revolusi fisik di mana-mana, peran Van Bekkum sangat strategis. Beliaulah yang meyakinkan hierarki Gereja bahwa Republik Indonesia sah dan layak didukung, sehingga Gereja tidak dipandang sebagai warisan kolonial.

Setelah membaca biografi Van Bekkum yang merupakan uskup pertama Ruteng, ada banyak nilai yang bisa diteladani dari dirinya. Pertama, nasionalisme yang inklusif, karena ia, yang orang Belanda, menaruh hatinya pada Indonesia dan bahkan mengidentifikasi dirinya sendiri sebagai β€œorang Indonesia”. Kedua, keberanian moral, sebab ia berani menentang kolonialisme demi membela kebenaran. Ketiga, pelayanan tanpa pamrih dengan menonjolkan kehidupan yang sederhana dan dekat dengan umat miskin dan terpinggirkan, serta tidak mengejar keuntungan pribadi saat melayani. Yang paling menyejukkan adalah fakta bahwa kerendahan hati ada dalam diri Van Bekkum. Meski ia berstatus uskup, ia sering kali turun langsung melayani rakyat kecil.

Jika kehidupan Van Bekkum dapat dirangkum menjadi sebuah ayat Kitab Suci, maka kutipan Rasul Paulus dalam Filipi 2:4 adalah deskripsi yang tepat. Rasul Paulus menulis:β€œJanganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga”. Van Bekkum, dalam karya pelayanannya, selalu mengutamakan kepentingan masyarakat sekitar. Terlepas dari fakta bahwa ia adalah seorang Belanda, tetapi beliau tidak pernah berhenti memperhatikan masyarakat pribumi. Beliau membangun fasilitas pendidikan dan kesehatan untuk masyarakat, mendorong kemajuan sumber daya manusia pada zaman itu. Demikian pula, β€œBerbahagialah orang yang membawa damai” (Matius 5:9) menemukan wujudnya dalam peran Van Bekkum sebagai pembawa damai antara Gereja dan Republik Indonesia.

Namun, seringkali pertanyaan ini muncul di dalam benak kita: β€œApakah nilai-nilai ini masih relevan dan mampu merepresentasikan kebutuhan masyarakat di dalam dunia yang sekarang serba individualis dan cepat?”. Terlepas dari segala kesibukan manusia dewasa ini, harus dikatakan bahwa nilai-nilai ini sangatlah relevan. Justru nilai-nilai ini sangat dibutuhkan karena banyaknya tantangan yang menanti, seperti adanya kesenjangan pendidikan, intoleransi, dan maraknya ketidakadilan. Suka tidak suka, nilai-nilai ini adalah kebutuhan mendesak yang harus dipenuhi, bagaikan manusia yang membutuhkan makanan dan minuman setiap harinya. Ralph Linton dalam teori perannya menegaskan bahwa setiap individu dituntut untuk memainkan peran sesuai dengan statusnya. Pemimpin masa kini pun harus berani mengambil peran sosial sebagaimana Van Bekkum lakukan di masanya.

Nilai keberanian moral, nasionalisme inklusif, dan pelayanan tanpa pamrih sebagaimana diteladankan tokoh seperti Wilhelmus van Bekkum tetap sangat relevan di era globalisasi. Indonesia masih menghadapi tantangan serius berupa kesenjangan pendidikan, intoleransi, dan ketidakadilan sosial. Studi Peran Pemerintah Pusat dan Daerah dalam Menyediakan Pendidikan Dasar Bermutu untuk Mewujudkan Visi Indonesia 2045 (2023) menegaskan bahwa pemerataan pendidikan menjadi syarat utama untuk kemajuan bangsa. Dalam konteks kepemimpinan, Teori Peran dari Ralph Linton (1936) menjelaskan bahwa setiap individu dengan status sosial tertentu dituntut memainkan peran sesuai ekspektasi masyarakat. Dengan demikian, pemimpin masa kini ditantang untuk tidak hanya sekadar berfungsi administratif, tetapi juga menjadi teladan moral.

Selain itu, nasionalisme inklusif juga sangat penting untuk menjaga persatuan bangsa yang majemuk. Benedict Anderson dalam Imagined Communities menekankan bahwa nasionalisme dibangun atas kesadaran kolektif, bukan garis pemisah antar kelompok. Nilai pelayanan tanpa pamrih yang ditunjukkan Van Bekkum sejalan dengan semangat tersebut: memperhatikan kaum lemah agar pembangunan tidak hanya dinikmati segelintir orang. Teori Interaksi Sosial (Mead) menunjukkan bahwa identitas seseorang dibentuk dalam relasi dengan orang lain, sehingga praktik pelayanan yang rendah hati dapat menjadi β€œvirus positif” dalam masyarakat yang kerap terjebak dalam budaya materialistis. Oleh karena itu, nilai-nilai Van Bekkum justru semakin mendesak untuk dihidupi, baik di bidang pendidikan, kesehatan, kepemimpinan publik, maupun kehidupan sosial-keagamaan karena menjadi fondasi karakter bangsa yang kokoh menghadapi derasnya arus globalisasi.

Bagaimana mengimplementasikan nilai-nilai itu? Pertama, dunia pendidikan dapat meneladani semangat Van Bekkum dengan membuka akses pendidikan seluas-luasnya. Kedua, masyarakat luas dapat menerapkannya lewat pelayanan sosial bagi yang kecil dan miskin. Ketiga, generasi muda dapat menghidupi keberanian moral dalam menolak intoleransi, korupsi, dan diskriminasi. Hal ini juga sejalan dengan amanat UUD 1945 Pasal 27 Ayat 3 bahwa setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam pembelaan negara, yang tidak selalu berarti angkat senjata, tetapi juga melalui hal-hal praktis yang dapat dilakukan sehari-hari.

Kepribadian Van Bekkum bukan sekadar catatan sejarah, tetapi inspirasi bagi yang sedang berziarah di dunia ini. Beliau menunjukkan bahwa nasionalisme tidak mengenal batas bangsa, dan bahwa iman sejati selalu diwujudkan dalam kasih yang nyata. Seperti ajaran St. Vincent de Paul: β€œKasih harus afektif dan efektif.” Van Bekkum telah membuktikannya, dan kini giliran kita melanjutkannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Disusun oleh:
– Christopher Rainer Ronadi XII-A4/04
– Elleonora Veronica Wirontono XII-A4/10
– Gabriella Stella Tanumulyo XII-A4/11
– Louis Edbert Jevon XII-A4/22
– Sean Moreno Hauw XII-A4/27
– Steve Ivander Santosa XII-A4/29

TAGS

CATEGORIES

Artikel

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *